logo

logo
Selamat Datang di Portal Pendidikan

“KEEP SILENT IN A CLASS”



Mengelola kelas bukanlah hal yang mudah, apalagi untuk kelas setingkat SMP/ MTs di mana usia mereka memasuki masa pubertas yang ditandai munculnya perilaku-perilaku “tak lumrah” untuk seorang pelajar. Seperti hari ini, ketika saya memasuki kelas yang mayoritas didominasi oleh anak-anak cowok. Mulanya memang setengah hati saya memasuki kelas, namun tetap saya paksakan karena sudah menjadi tanggung jawab sebagai pendidik. Saya coba sembunyikan ekspresi bad mood ini dengan sesekali menghela napas. Selangkah menuju kelas, aura “nakal”nya sudah tercium. Suara sahut-menyahut mencela satu sama lain, dengan sesekali makian. Meja dan kursi tampak berantakan, walaupun tidak ada adegan berkelahi. Saya mulai berdehem berharap bisa menenangkan kelas, namun hanya berselang dua menit, situasi serupa muncul kembali.
Begini nasib guru muda seperti saya, ketika idealismenya diuji. Kalau untuk kelas seperti ini menurut pikiran sebagian teman saya, lebih baik gunakan jurus “Kasih Tugas Guru Bebas”. Percuma saja diajar jika kesiapan anak untuk belajar tidak ada. Berhubung, saya masih berusaha menjadi guru yang “baik” –katanya- saya tetap mengisi kelas itu namun dengan menu pelajaran yang berbeda. Lima menit berlalu, situasi masih belum kondusif. Mengutip dari teori belajar ala Conditioning menyebutkan tentang pentingnya kesiapan belajar dan keberhasilan pembelajaran salah satunya ditentukan oleh kesiapan peserta didik dalam menerima pelajaran. Benar saja, ketika melihat sebagian besar anak-anak saya masih belum siap untuk menerima pelajaran, saya akan menerapkan jurus baru. Yakni, jurus “Diam adalah Emas”
Bukan berarti saya pasif, dan membiarkan anak didik saya melakukan hal tersebut, tapi saya sudah melakukan tindakan kuratif. Misalkan, seperti memberikan perintah untuk bisa kondusif, memberikan ancaman bagi yang tidak bisa tenang, namun tetap saja anak-anak ini “convidence” dengan ocehannya. Daripada saya marah dan meluapkan amarah saya dengan berbuat kasar kepada anak-anak, lebih baik saya diam, berdzikir, seraya memberi nasehat dengan “tatapan mata”. Saya mengamini pernyataan teman saya waktu mengisi amanat upacara bendera: “kalau saya bicara dan kamu bicara, terus siapa yang jadi pendengar. Biarlah salah satu yang bicara, yang lain mendengarkan.” Sembari menyusun strategi, saya mengikuti alur pembicaraan mereka. Baru aku menyadari, bahwa tidak semua siswa mengoceh itu karena perlu membincangkan sesuatu, tapi lebih karena mengikuti pembicaraan saja, sebagai wujud eksistensinya dalam kelompok –lebih tepatnya “Geng”- Hal ini dibuktikan bahwa tidak semua siswa yang ikut menyahut ocehan itu memahami alur pembicaraannya, mengalir begitu saja seperti “knalpot bocor”.
Sepertinya, ada momen yang pas untuk memberikan wisdom word kepada anak-anakku terkait dengan kegaduhannya di kelas. Setelah satu jam berlalu dengan diam, saya mulau angkat bicara. “Sekarang ceramahnya udah kelaar, sekarang waktunya tugas. Tolong tulis semua pembicaraan yang sudah kalian obrolkan lengkap tanpa terkecuali, karena Bapak sudah menyimak kalian selama satu jam penuh.” Ujarku dengan nada ketus. “Kalau ada yang tidak mengumpulkan atau ada percakapan yang luput dalam tulisan, jangan salahkan saya jika minggu depan ada apa-apa.” Seraya mengepalkan tangan. Sebagai closing statement saya menyuruh salah satu siswi –yang sedari tadi ikut diam seperti saya- untuk menuliskan sebaris kalimat. “Jangan katakan semua apa yang kau ketahui, tapi ketahuilah semua apa yang kamu katakan.”
Selang beberapa detik, bel pergantian jam berbunyi. Aku meninggalkan kelas seusai mengucap salam. Sejenak sambil melirik, ku dapati wajah siswaku berkaca-kaca. Sebagian ada yang diam, sebagian ada yang pura-pura tidak paham. “Namanya juga anak-anak.” Gumamku dalam hati.

Monday, 6 November 2016 @Nine_Be
Share this post :

Posting Komentar

PAPAN PENGUMUMAN

Agenda MTsNU Tanjunganyar Bulan April:
  1. Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional (UAMBN) (2-6)
  2. Ujian Madrasah (9-13)
  3. Peringatan Isra' Mi'raj (15)
  4. Tryout Kabupaten (16-19)
  5. Ujian Nasional (23-26)

Statistik Blog

 
Support : MTsNU | DownloadRPP | BerintaNanggroe
Copyright © 2015. MTs. Nurul Ulum - All Rights Reserved
Template by Cara Gampang Modified by MTsNU
Proudly powered by Blogger